Minggu, 31 Agustus 2014

KELAS MUTU JERJANG (Dragon Blood / Daemonorops Draco / Xue Jie / Resin)

Salam Agro..

Disini saya akan coba sedikit mengulas tentang kelas mutu jernang yang dipakai dalam bisnis ini, karena belum banyak yang mengetahui arti dari istilah Jernang Kadar 90%, 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, 20%, 10% dst.

Dalam istilah tersebut diatas merupakan istilah yang sangat menentukan akan kualitas jernang dan berhubungan langsung dengan harga, misal : jernang kadar 80% ini diartikan 80% merupakan kandungan getah (resin) jernang dan 10% lagi merupakan kandungan atau material lainnya, yang dimaksud material lainnya disini adalah non getah, bisa kulit, bisa pecahan biji, pecahan tangkai (tandan), namun ada juga oknum pengolah jernang yang berlaku curang dengan menambahkan material lain diluar buah jernang itu sendiri untuk mencari keuntungan sesaat, sehingga dapat menyebabkan tercorengnya pengolah jernang di Indonesia dan tidak menutup kemungkinan harga menjadi anjlok.

Kenapa jernang (dragon blood) sangat dicari oleh dunia farmasi? ini dikarenakan dalam getah jernang (resin) terdapat kandungan senyawa Dracohordin yang sangat dibutuhkan oleh dunia farmasi sebagai bahan obat penangkal kanker, dll. Selama ini yang menjadi kendala dari para pengolah jernang adalah tidak adanya sertifikasi standart mutu kualitas jernang dalam negeri yang bisa di akui oleh pihak luar (buyer). Kalaupun ada, buyer tidak bisa mengakuinya dan yang kita pakai adalah hasil dari labor mereka (buyer), disini para pengolah jernang mau tidak mau harus menerima hasil tersebut, karena hasil labor akan menentukan kualitas jernang dan akan berbanding lurus dengan harga jernang itu sendiri. Oleh karena itu perlu tidak lanjut dari pihak terkait untuk memperjuangkan hal tersebut.

Hasil produk Jernang 80% - 90%




 










 

 Hasil produk Jernang 60% - 79%














Contact Person :

Hp.                           :   +6282311423552

Wechat/Whatsapp    :    +628126709313

E-Mail                      :  verdian90@gmail.com
                                   mr_ione01@yahoo.co.id



Sumber : Pikiranku dw

Selasa, 08 April 2014

PASAK BUMI - TONGKAT ALI

Pasak Bumi atau Tongkat Ali  (Eurycoma longifolia) adalah sejenis pohon yang terdapat di hutan INDONESIA dan Malaysia.

Pasak Bumi merupakan sejenis tumbuha yang dikatakan dan sudah dikenal sejak turun temurun mempunyai bahan yang membantu mereka yang menghadapi masalah syahwat.

Pasak Bumi dapat mencapai ketinggian sehingga 10 meter lebih di dalam rimbunan hutan tanah rendah. Biasanya, daunnya rimbun pada ujung batang. Kebanyakan pohon ini tidak bercabang, jika bercabang pun terlalu sedikit yaitu satu atau dua cabang saja. Bunganya tersusun padat pada tangkai yang bercabang, yang keluar dari pangkal daun.

http://pinangiris.blogspot.comhttp://pinangiris.blogspot.com










http://pinangiris.blogspot.comhttp://pinangiris.blogspot.com








Dan kami siap menyuplai bagi rekan-rekan yang berminat dengan berbagai spek sesuai keinginan buyer.

Spek :

Diameter minimal  = 10 cm
Kadar Air     = 10%-25%
Bentuk    = Gelondongan (sesuai permintaan)
Alternatif  = Bisa berupa cincangan (serut) atau bubuk

Jika berminat bisa hubungi contact person saya

wassalam/terima kasih

Selasa, 23 Juli 2013

KOPI LUWAK LIAR SUMATERA



Saat ini kopi luwak menjadi tren dan menjadi komoditi yang menduni juga yang bernilai ekonomi tinggi, disini kami juga menyediakan komoditi Kopi Luwak Liar ASLI dari Sumatera dengan kualitas bagus yang berkadar air (KA) 11% - 12% (siap sangrai), mengenai harga yang sangat bersaing dipasaran. Bagi rekan rekan yang berminat dengan komoditi Kopi Luwak Liar bisa menghubungi Contact Person kami.

Jenis - Jenis Kopi Luwak Liar yang tersedia :

1. Kopi Luwak Arabika (green beans) Grade. A
2. Kopi Luwak Robusta
3. Kopi Luwak Excelsa


http://pinangiris.blogspot.comhttp://pinangiris.blogspot.com












http://pinangiris.blogspot.comhttp://pinangiris.blogspot.com









http://pinangiris.blogspot.comhttp://pinangiris.blogspot.com










http://pinangiris.blogspot.comhttp://pinangiris.blogspot.com













http://pinangiris.blogspot.com
                                                                                                                                                      






"BERMITRA YANG SALING MENGUNTUNGKAN"




Contact           : +6282 311 423 552 
                       

E-Mail            : verdian90@gmail.com
                         mr_ione01@yahoo.co.id



Salam...



Senin, 15 Oktober 2012

GAMBIR

Spesifikasi Gambir
Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama sama (Uncaria gambir Roxb). Di Indonesia pada umumnya digunakan pada menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidan. Negara India mengimpor 68% gambir dari Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih. 
Gambir dihasilkan pula dari tumbuhan U. acida.



Ciri-ciri Tumbuhan Gambir
Tumbuhan perdu setengah merambat dengan percabangan memanjang. Daun oval, memanjang, ujung meruncing, permukaan tidak berbulu (licin), dengan tangkai daun pendek. Bunganya tersusun majemuk dengan mahkota berwarna merah muda atau hijau; kelopak bunga pendek,mahkota bunga berbentuk corong (seperti bungakopi), benangsari lima, dan buah berupa kapsula dengan dua ruang.



Membudidayakan Gambir
Gambir dibudidayakan pada lahan ketinggian 200 - 800 m di atas permukaan laut. Mulai dari topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya ditanam sebagai tanaman perkebunan di pekarangan atau kebun di pinggir hutan. Budidaya biasanya semiintensif, jarang diberi pupuk tetapi pembersihan dan pemangkasan dilakukan. Di Sumatera kegiatan penanaman ini sudah mengganggu kawasan lindung.

Produk dari Tumbuhan Gambir
Gambir adalah ekstrak air panas dari daun dan ranting tanaman gambir yang disedimentasikan dan kemudian dicetak dan dikeringkan. Hampir 95% produksi dibuat menjadi produk ini, yang dinamakan betel bite atau plan masala. Bentuk cetakan biasanya silinder, menyerupai gula merah. Warnanya coklat kehitaman. Gambir (dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai gambier) biasanya dikirim dalam kemasan 50kg. Bentuk lainnya adalah bubuk atau "biskuit". Nama lainnya dalah catechu, gutta gambir, catechu pallidum(pale catechu).

Daerah penghasil utama adalah Sumatera bagian tengah dan selatan. Harga jualnya di tingkat petani per kg adalah Rp. 8.000 – Rp. 30.000 di pasaran ekspor harganya fluktuatif. Ekspor gambir juga menunjukkan pertumbuhan yang baik.
Umumnya, gambir dikenal berasal dari Sumatera Barat. Terutama dari Kabupaten 50 Kota,Pesisir selatan(kec koto XI Tarusan Desa siguntur muda). Sebagai sentra penghasil gambior, Kabupaten 50 Kota merupakan lokasi yang strategis dan cocok untuk investor perkebunan.


Manfaat/Kegunaan Gambir
Kegunaan utama adalah sebagai komponen menyirih, yang sudah dikenal masyarakat kepulauan Nusantara, dari Sumatera hingga Papua sejak paling tidak 2500 tahun yang lalu. Diketahui, gambir merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses di perut dan usus. Fungsi lain adalah sebagai campuran obat, seperti sebagai luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit (dibalurkan); penyamak kulit; dan bahan pewarna tekstil.
Fungsi yang tengah dikembangkan juga adalah sebagai perekat kayu lapis atau papan partikel. Produk ini masih harus bersaing dengan sumber perekat kayu lain, seperti kulit kayu Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa, serta kulit polong Caesalpinia spinosa yang dihasilkan negara lain.

Kandungan Gambir
Kandungan yang utama dan juga dikandung oleh banyak anggota Uncaria lainnya adalah flavonoid (terutama gambiriin), katekin (sampai 51%), zat penyamak (22-50%), serta sejumlah alkoholid (seperti gambirtannin dan turunan dihidro- dan okso-nya. Selain itu gambir dijadikan obat-obatan modern yang diproduksi negara jerman, dan juga sebagai pewarna cat, pakaian.

Penyebaran Gambir
Bila ditinjau dari ketersediaan lahan di Sumatera Barat maka terlihat adanya keterbatasan. Sekitar 60 persen dari lahan yang ada merupakan perbukitan dan lahan miring dan 15 persen saja yang telah disepakati untuk lahan pertanian. Secara keseluruhan hanya tersedia sekitar 450.000 ha lahan yang potensial untuk perluasan tanaman perkebunan.
Di Sumatera Barat tanaman gambir tumbuh dengan baik didaerah Limapuluh Kota, Pesisir Selatan dan daerah tingkat II lainnya. Di Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 11.937 Ha dengan produksi 7.379 ton pertahun. Di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 2.469 Ha dengan produksi 688 ton pertahun dan Kabupaten lainnya seluas 175 Ha yang sebahagian besar belum berproduksi.
Luas di atas potensial dan memenuhi skala ekonomi untuk dikembangkan. Jumlah unit usaha pengolahan gambir di Sumatera Barat tercatat sebanyak 3571 unit dengan tenaga kerja 6908 orang dan investasi Rp 1.029.614.000,- . Data produksi gambir di Sumatera Barat sebenarnya belum tersedia dengan lengkap, khususnya untuk konsumsi dalam negeri. Bila berpedoman kepada angka produksi tahun 1997 dan angka ekspor pada tahun yang sama maka 98 persen produksi gambir diekspor dan 2 persen dikonsumsi dalam negeri.
Di negara lain juga ada produk sejenis gambir yang ditawarkan seperti tannin dari kulit kayu Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa. Pada tahun 1983 diproduksi 10000 ton perekat berbasis tannin Acacia mearnsii di Afrika Selatan. Di New Zealand telah mulai produksi tiap tahunnya 8000 ton perekat berbasis tannin dari kulit kayu Pinus radiata. Di Peru diproduksi Tara tannin dari kulit buah Caesalpinia spinosa yang juga akan dijadikan bahan baku perekat.
Prospek gambir sebagai bahan baku perekat untuk bahan berbasis kayu atau bahan berlignosellulosa lainnya terlihat ada. Sebagai langkah awal penulis telah mendaftarkan paten pada Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan judul “Proses gambir sebagai bahan baku perekat dengan nomor P 00200200856” dengan memanfaatkan insentif dari Kementerian Riset dan Teknologi.
Gambir dapat juga dijadikan sebagai bahan baku utama perekat perekat kayu lapis dan papan partikel. Bila gambir yang diekspor tersebut digunakan sebagai bahan baku perekat kayu lapis di dalam negeri maka baru akan memenuhi kebutuhan tiga pabrik kayu lapis yang berkapasitas 5000-6000 m3/bulan. Hal ini akan masih tetap terlalu sedikit dibanding kebutuhan pabrik kayu lapis dan papan partikel yang ada di Pulau Sumatera. Dan gambir dapat diolah di dalam negeri menjadi bentuk yang lain dari sekarang, seperti bentuk biskuit dan tepung gambir sesuai dengan permintaan pasar dunia. Negara India saja membutuhkan gambir sebanyak 6000 ton pertahun. Terlihat bahwa prospek luar negeri masih terbuka.
Ditinjau dari aspek konservasi ditemui juga penanaman pada lahan termasuk areal kawasan lindung dengan salah satu ciri kelerangan diatads 40 persen. Di Kabupaten Limapuluh Kota terutama perkebunan gambir ada di Kecamatan Kapur IX, Mahat, Pangkalan Koto Baru dan Suliki Gunung Mas. Kapur IX merupakan kecamatan penghasil gambir terbesar (hampir 2/3 total produksi) dengan wilayah utama yaitu Nagari Sialang. Areal penanaman gambir tersebut sebahagian besar berasal pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar Kanan dan DAS Mahat.
Berdasarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), fungsi kawasan hutan kedua Sub DAS tersebut adalah 64,30 persen sebagai kawasan lindung dan 35,70 persen sebagai kawasan yang boleh diusahakan (kawasan eksploitasi). Kawasan lindung tersebut terdiri dari 61,37 persen (204412 Ha) sebagai hutan lindung dan 2,93 persen sebagai hutan suaka alam.


Ok...mungkin cukup sekian dulu sementara ulasan tentang tanaman gambir sampai bisa menjadi uang,,, lain kali kita bahas tentang topik yang lain,,,wassalam..





Contact           : +6282 311 423 552
             

E-Mail            : verdian90@gmail.com
                         mr_ione01@yahoo.co.id




Salam,



Sumber : wikipedia & Pikirankudewe

Sabtu, 13 Oktober 2012

GETAH JERNANG (Dragon Blood / Xue Jie / Daemonorops Draco / Resin)


http://pinangiris.blogspot.com
ULASAN

Banyak orang tergiur harga jernang yang fantastis, per kg nya. Harga tinggi menjadi bumerang, banyak perambah menebang kerabat rotan itu.
Menebang jernang menjadi jalan pintas memperoleh laba besar. Jernang tumbuh merambat hingga ketinggian 25 meter. Untuk mendapatkan buah di pucuk, memang bukan hal mudah. Oleh karena itu, ‘Jernang terancam punah,’ kata Drs Yana Sumarna MSi, periset di Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Bogor, Jawa Barat. Saat ini saja pasokan getah jernang kian seret. Menurut koordinator program Yayasan Gita Buana, Ir Lambok Panjaitan, untuk mendapatkan 1 - 2 kg getah perlu waktu 2 pekan. Bandingkan dengan 10 - 15 tahun silam, pencari jernang hanya perlu 1 pekan di hutan untuk memperoleh 7 - 10 kg getah kering, sedangkan untuk pendapatkan 1 kg getahnya diperlukan + 28 - 30 kg buah jernang.
Selain itu laju penggundulan dan alih fungsi hutan juga mengancam keberadaan kerabat salak itu. Data Departemen Kehutanan pada 2008 menunjukkan, deforestasi mencapai 117-juta ha per tahun. Di sisi lain, permintaan ekspor jernang sangat tinggi. ‘Ekstrak getah kering diekspor untuk bahan baku herbal,’ kata direktur eksekutif Yayasan Gita Buana, lembaga swadaya masyarakat bidang pelestarian lingkungan di Jambi, Abdul Hadison. Jalan keluar terbaik adalah budidaya agar ketersediaan dan kontinuitas pasokan jernang terjaga.



Terbakar
http://pinangiris.blogspot.com

Masyarakat Desa Sepintun dan Lambansigatal, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Jambi, mulai membudidaya jernang pada 2006. Bupati Sarolangun saat itu, H Hasan Basri Agus, meresmikan penanaman 3.200 bibit. Populasi hanya 300 - 400 tanaman per ha. Penanaman perdana seluas 10 ha. Sayang, lantaran kualitas biji tidak seragam - sebagian tua, lainnya muda - menyebabkan hanya separuh yang tumbuh. Meski demikian, penanaman oleh Hasan menjadi bola salju yang terus bergulir. Dalam hitungan bulan, lebih dari 100 kepala keluarga di Lambansigatal beramai-ramai menanam jernang di pekarangan masing-masing.
‘Saat ini luas total lebih dari 50 ha,’ kata Hadison. Jika tidak ada aral melintang, Hadison memprediksi akhir 2010 tanaman-tanaman muda berumur 3 tahun itu belajar berbuah. ‘Pertengahan 2011 masyarakat bisa memanen getah dari pekarangan sendiri,’ kata Hadison. Setahun sebelumnya, di Desa Pulauaro, Kecamatan Tabirulu, Kabupaten Merangin, Jambi - terpisah hampir 100 km - Usman Mansur menanam 1.000 biji jernang yang ia peroleh dari masyarakat Suku Anak Dalam. Lagi-lagi karena kualitas biji beragam, hanya 500 berhasil tumbuh di lahan 4 ha di belakang rumahnya.
Namun, pada 2009 peladang berpindah bermaksud membersihkan lahan dengan cara membakar semak-semak. Api itu menjalar ke lahan Usman dan meludeskan hampir 400 tanaman jernang setinggi 3 meter. Saat Trubus bertandang ke sana pada Oktober 2010, sekitar 100 tanaman tersisa di sela pohon karet dan gaharu mulai berbuah. Usman membudidayakan jernang Daemonorops draco. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia menyebutkan ada 30 anggota marga Daemonorops. Namun, hanya D. didymophyllus dan D. draco yang layak budidaya karena kedua spesies itu genjah dan berproduksi tinggi. Jernang bernilai karena getah yang melapisi kulit buah setengah tua.
‘Di Jawa tidak ada jernang: Daemonorops draco atau D. didymophilla, yang ada D. rubra yang getahnya tidak berkhasiat obat,’ kata Drs Yana Sumarna MSi. Selain spesies, calon pekebun juga mesti memastikan bahwa jernang yang ditanam merupakan tanaman betina. Seperti tanaman monokotil lain, jernang tumbuhan berumah 2. Artinya, bunga jantan dan betina terpisah di tanaman berbeda dan berasal dari biji berbeda pula. Hanya tanaman betina yang berbuah. Makanya, celaka tiga belas bagi pekebun yang menanam puluhan biji, tapi setelah tumbuh, ternyata semuanya pohon jantan. Begitulah pengalaman warga Desa Sepintun yang menanam dan merawat 25 rumpun jernang, yang ternyata seluruhnya jantan.


Benih Matang
http://pinangiris.blogspot.com

Menurut Usman, membedakan buah jantan dan betina relatif mudah jika buah masih di tandan. Dompolan paling atas dan bawah pasti buah jantan, lainnya betina. Namun, hampir mustahil membedakan jenis kelamin buah kalau memperoleh buah dari hutan yang kondisinya tercampur-baur dalam karung. Sebenarnya, pekebun tetap memerlukan tanaman jantan untuk penyerbukan. Tanpa jantan, tanaman betina tidak bakal berbuah.
Untuk itu Usman menyarankan perbandingan pohon jantan dan betina 1:6, paling banyak 1:10. Pekebun dapat menanam pohon jantan di tepi alias permulaan dan ujung barisan agar mampu menyerbuki semua pohon betina secara merata. Pekebun di Jambi memanfaatkan karet, gaharu, atau tanaman keras lain sebagai penegak. Dengan demikian mengurangi biaya pengadaan turus atau tiang rambatan. Oleh karena itu jarak tanam jernang mengikuti jarak tanaman utamanya. Jarak antara jernang dan pohon penegak 1 - 1,5 m. ‘Jernang mulai bersandar setelah setinggi 2 m lebih,’ kata Usman.
Agar kelulusan hidup meningkat, semaikan biji dari buah yang matang sempurna - berumur 11 bulan sejak bunga. Benamkan biji di persemaian berupa media pasir kasar, tutup serasah, lalu simpan di tempat teduh. Agar cepat bertunas, jangan membenamkan biji terlalu dalam, cukup ratakan media pasir di atas permukaan benih. Saat kemarau, Usman menganjurkan penyiraman benih di persemaian setiap hari. Dua hingga empat pekan kemudian muncul tunas mirip taji ayam. Itu waktu tepat untuk memindahkan bibit ke polibag.
Selang 5 - 8 bulan ketika tinggi bibit 30 - 50 cm, pekebun memindah tanaman anggota famili Arecaceae itu ke lahan. Hindari menanam terlalu dalam agar jernang cepat berbuah. ‘Pangkal batang harus di atas tanah,’ kata Usman. Benamkan segenggam (10 - 15 g) pupuk Urea saat menanam. Selanjutnya tambahkan 1 sak (10 - 15 kg) pupuk organik setiap tahun. Tahun ke-3, tanaman belajar berbuah dan berproduksi penuh tahun berikutnya. Pekebun menuai 4 - 6 tandan buah per tanaman berumur 3 tahun. Produksi bakal terus meningkat seiring pertambahan umur tanaman. Pada umur 6 tahun, misalnya, produksi mencapai 8 - 12 tandan buah dan meningkat menjadi 16 - 20 tandan pada umur 10 tahun.
Produksi tanaman stabil pada umur
10 - 15 tahun. Jernang mampu bertahan hingga umur 30 - 50 tahun, tergantung perawatan. Pekebun memperoleh 2 - 2,4 g getah dari setiap kg buah jernang rambai D. draco. Dengan begitu, perambah tak perlu lagi masuk hutan dan meninggalkan keluarga. Tanaman penghasil getah termahal itu tumbuh baik di habitat asli hutan Sumatera dan Kalimantan. Menurut Yana, penanaman jernang di Pulau Jawa tidak cocok. Sebab, Curah hujan di atas 2.000 mm per tahun menghambat pembungaan,’ kata kelahiran Ciamis 62 tahun silam itu. Kerabat rotan itu tetap dapat tumbuh di Jawa, tetapi sulit berbunga dan berbuah. Tanaman jernang hanya memerlukan curah hujan 1.000 - 1.500 mm per tahun.



Ekstraksi Getah Jernang dengan cara Perebusan 


Dalam pengolahan/ekstraksi getah jernang (dragon blood) bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, secara mekanis, manual, dll. Namun ada salah satu cara alternatif yang bisa dilakukan oleh masyarakat tanpa harus memerlukan teknologi tinggi dan biaya yang relatif murah yaitu dengan cara perebusan, dengan cara ini bisa dibilang cara yang tepat guna dalam pengolahan getah jernang (dragon blood).


Perebusan yang dilakukan bertujuan untuk mencairkan resin yang terdapat didalam buah jernang. Cara perebusan dilakukan dengan menggunakan seluruh bagian buah kecuali biji.

Kelebihan cara perebusan ini adalah resin yang dihasilkan relatif jauh lebih bersih dibandingkan dengan pengolahan cara ditumbuk atau digiling, dan selama perebusan dilakukan, buah diaduk-aduk kurang lebih selama 1 jam, dan resin yang naik dikumpulkan dalam suatu tempat (ember atau wadah loyang atau lainnya).

Resin yang menggumpal tersebut lambat laun akan mengering dan menggumpal/membeku. Resin yang menggumpal tersebut dihaluskan (cara bisa disesuaikan) sampai menjadi serbuk halus. Jika proses penghalusan telah selesai dilakukan maka serbuk tersebut diangin - anginkan untuk meminimalkan kadar airnya (dijemur). Untuk hasil yang lebih bagus bisa dilakukan pengayakan dengan menggunakan ayakan tepung halus,  jika masih banyak yang kasar maka resin yang tertinggal diatas ayakan bisa dilakukan penggilingan ulang. Resin hasil akhir inilah yang akan digunakan dalam analisis sifat fisiko dan kimia sesuai dengan kebutuhan buyer/konsumen.




LAMPIRAN :


http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com










http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com












http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com












http://pinangiris.blogspot.com http://pinangiris.blogspot.com








http://pinangiris.blogspot.comhttp://pinangiris.blogspot.com








http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com







http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com









http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com

http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com

http://pinangiris.blogspot.com


http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com


http://pinangiris.blogspot.com


http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com

http://pinangiris.blogspot.com
http://pinangiris.blogspot.com

http://pinangiris.blogspot.com







Untuk sementara sampai disini dulu ulasanya kapan-kapan disambung lagi,,, :)






ANDA BERMINAT...????? 





Contact           : +62 823 1142 3552
                          

E-Mail            : verdian90@gmail.com
                          mr_ione01@yahoo.co.id

WhatsApp/
Wechat          : +62 812 6709 313



Salam,



Sumber : trubus, mbah gugel & pikirankudewe dll